Sabtu, 23 Juli 2011

Ketika Cinta Beasiswa

Jumat,22 Juli 2011

Oke, pertama kali kata terima kasih aku paketkan dengan sepucuk bunga mawar kepada pemberi ide untuk tulisan ini, dia adalah kawan kampus aku, Dila. Add aja Facebooknya… Fara Dilla, karena anaknya lumayan manis lah (senang kali ke dipuji2 dil?! BAYAR!!!)

Pagi tadi, kami serombongan sedang mengurus tahap-tahap terakhir untuk pengurusan beasiswa PEMDA. Menurut ku ini adalah beasiswa ter-repot yang pernah aku ikuti, kenapa?? Informasi untuk beasiswa ini saja dikeluarkan di Koran dan syaratnya pun lumayan banyak, walaupun tidak susah dalam mengurus syarat-syarat yang diminta, tapi TETAP uang sana sini juga… (Pak SBY!!!! Helep!). Dan ditambah lagi, karena ini semua tidak ada informasi yang pasti selain dari Koran, jadi banyak sekali kabar-kabar angin yang menjurus ke kata “benar juga ya…”. Syarat pun akhirnya bertambah!

Tapi, Alhamdulillah… hari ini semuanya sudah selesai, walaupun kami kumpul di saat-saat mau tutup (jam 12 siang), tapi yang penting berkas kami, specially punya Aku udah masuk dengan nomor 1795. BAYANGKAAN! Hampir 1800 orang yang sudah mendaftar… dan pendaftaran masih dibuka terus sampai sebulan lebih ke depan… dan terdengar kabar panitia menargetkan 5000 berkas akan masuk untuk beasiswa kali ini. Yang aku pikirkan hanya satu, BAGAIMANA ITU TANGAN PARA PANITIA MENYORTIR SATU PER SATU BERKAS??? GEMPOR-GEMPOR LAH TU TANGAN. De eL

Ada hal yang menarik dari setiap pengurusan beasiswa seperti ini, baik itu beasiswa yang terikat hanya sebatas internal universitas masing-masing ataupun cakupannya lebih luas seperti yang terjadi pada beasiswa Pemda kali ini. Kenapa begitu banyak orang yang mau capek-capek mengurus beasiswa seperti ini, apa mereka kurang uang makan atau mereka butuh tambahan dana untuk mas kawin? Ya, untuk alasan kedua, aku rasa aku juga akan mengajukan proposal kepada pemerintah untuk hal itu (mahalnya anak gadis orang… -.-). Tapi aku juga lihat, tidak semua yang mengurus beasiswa atau bantuan dana apapun adalah anak kurang mampu, sebenarnya sah-sah saja, asalkan syaratnya tidak mencatumkan “kamu harus anak kurang mampu” aku rasa hati harus bermain kali itu, yang bukan hak kita… lebih baik mundur (Brimob bangeuuudhh).

Jujur saja, aku mulai jengah dengan pertanyaan kawan-kawanku tentang kenapa aku selalu hyperactive dengan yang namanya Beasiswa. Mungkin dipikiran mereka aku rakus sekali dengan uang dan sedang berusaha untuk mengumpulkan dana untuk naik haji… padahal tidak begitu juga! Ini ya, ku katakan/tuliskan bahwa aku selalu mengurus beasiswa karena aku butuh AMUNISI untuk masa depan ku, itulah alasan ku yang sangat utama!!! Amunisi? Ya, amunisi. Aku merasa tidak pantas terus-terusan mengadah tangan kepada orang tua walaupun orang tuaku se-kaya apapun, rasanya tidak ada gunanya sama sekali kita sebagai anaknya yang hanya mengadah tangan kepada mereka. Aku tidak punya pekerjaan dan sekolahku masih akan terus membutuhkan dana. Di tambah lagi, umur orang tua yang sudah beranjak setengah abad yang membuat mereka akan cepat merasa letih di aktivitasnya… its touching!

Mungkin sebagian kalian tidak sependapat denganku, tapi itu bukan urusan ku… ini kan blog aku! (SUMPAH, INI TIDAK PENTING). Mungkin ini juga alasan anak-anak dibawah ini yang rela berdesak-desakan demi amunisi yang mereka perlukan ataupun alasan-alasan lain yang menurut mereka sangat urgent untuk di-indahkan… I’m with you, friend…

(nampak ga begitu rame, karena sebagian udah di "usir" keluar sama petugasnya)

Uang adalah hal yang tidak begitu pasti kegunaannya bila kita telah banyak memilikinya, tapi coba kita bandingkan dengan orang yang jarang memegang uang, mereka selalu mengeluarkan uang untuk hal-hal yang pasti dan jelas untuk tujuan apa uang itu dikeluarkan (sok tahu). Orang tua mungkin telah banyak mempersiapkan dana untuk sekolah kita, dan itu menjadi bonus bagi kita, untung-untung lagi uangnya bisa digunakan untuk sedekah kepada yang berhak… oohh, nikmatnya hidup bila begitu… ^_^

Aku tidak ingin munafik, dan kalian yang calon-calon penerima beasiswa juga jangan munafik, kalau uang itu sudah ada di tangan kita bisa membuat rencana awal berbalik arah. Pasti ada saja barang yang mau di beli… dasar manusia. Apapun itu, yang paling penting adalah meningkatkan prestasi belajar, karena segudang beasiswa tidak ada gunanya bila prestasi tidak naik juga… aku rasa, setiap orang tua pasti akan lebih senang kalau anaknya ber-prestasi dalam hal apapun yang ia lakukan, baik itu akademik maupun organisasi… ataupun yang sudah bekerja, yang akan memberikan input besar bagi orang tua berupa rasa bangga yang tak terkira melihat jerih payahnya selama ini berbuah manis, kita pun sebagai anaknya merasa berguna sebagai titipan ALLAH kepada orang tua kita.

Yang pasti aku tak ingin terlalu dalam memikirkan beasiswa itu tembus atau tidak. Fokus saja dalam menjalani sisa waktu di dunia dan berfikir positif dalam setiap usaha yang kita lakukan, juga menerima dengan lapangnya hati bila beasiswa itu ternyata tidak kita dapatkan. Kita ini tidak terlalu membutuhkan uang untuk kehidupan yang abadi tapi kita membutuhkan uang untuk sarana dalam menjalankan hidup yang sementara, so… kalau dapat beasiswa nanti, sisihkan sedikitnya 2,5% untuk yang berhak… sebagai rasa syukur lah atas rezeki yang Diberi-Nya. Dan terakhir, selamat beribadah di bulan Ramadan (untuk semuanya mohon maaf ya atas salah aku sama kalian selama ini, loph yu ol!)



Oya, ngomong2 kok beasiswa kita ga tembus, sakit juga ya… (Tetap.. -,-)

Minggu, 03 Juli 2011

Ayah, seorang Megapower

…ZONA PUISI….

Rasa sayang yang lain yang di beri
Senyuman selalu menjadi obat mujarab
Walaupun suatu kadang harus berperang
Melawan kumis tebal untuk melihat senyum terbaik itu

Berperasaaanku untuk selalu di dekatnya
Aku terpisah oleh rasa benci bila dia ku gapai
Dia mungkin saja beku oleh hati
Hati yang membuatnya selalu benci akan diri sendiri

Disini aku hanya mewakili
Sejuta umat negri yang sangat mencintai
Suatu sosok simbolik yang berjuang meraih mimpi
Kadang hatinya merintih tapi tak bisa diberi

Aku begitu mencintai yang satu ini
Cinta ini mungkin terlalu tabu…
Tapi, kadang aku harus takut
Cinta Tuhan harus Memanggilnya pergi

Aku takut… takut diri ini goyah
Ketika melihat senyuman itu sudah tak bernyawa lagi
Iman ku harus menjawab
Bahwa dia bukan milikku…

Ayah… ku sebut namamu di sini
Aku ingin tangisanku lebur oleh karang
Entah apa yang terjadi dalam tulisan ini
Aku tak bisa melihat pasti kalau ini sebuah tanda terima kasih…

Ayah…
Setiap marahmu adalah kebaikan
Setiap senyummu adalah ketenangan
Walau sulit untuk menggapaimu, tapi aku ingin kau tahu
Apapun dirimu, engkau tetap Ayahku….

Anakmu,
Muhammad Fauzan Nur.

(oya, ini bukan gambar aku dan ayahku, hanya kiasan ayah dan anak yang bahagia)

Jumat, 24 Juni 2011

Balada Dompet

INI SERIUS…
Semuanya begitu cepat….

Aku hampir tidak percaya dengan kejadian kemarin (22 juni 2011), seakan semuanya masih bermain di dunia mimpi, hari ini aku terbangun dengan pikiran yang seakan baru berkelana jauh ke sana ke mari… tapi hari kemarin adalah pembelajaran… aku bersyukur, ALLAH tidak pernah diam akan makhluk-Nya, teguran ini adalah Tanda bahwa ALLAH dekat… Subhanallah..!

Jadi begini ceritanya, tapi sebelumnya aku memohon maaf, karena penulisan ini tidak meminta persetujuan orang-orang yang terlibat…
“aku sudah lama sekali tidak olahraga apalagi jogging, jadi kemarin karena ada teman yang mengajak, aku langsung mau. Kami pergi ber-4, dengan 2 motor. Awalnya semua berlangsung normal, kami lari seperti biasa, dan pada putaran ke 4, saya dan 2 orang teman saya memutuskan berhenti karena lelah. Dan kami harus menunggu 1 orang teman kami yang masih lari. Lalu aku, tidak sengaja memerhatikan orang yang sedang duduk-duduk di atas motor temanku, artinya motor yang aku tumpangi. Aku sempat membahas nya dengan temanku, tapi karena kami pikir, tidak ada helm yang bagus diantara kami, jadi kami bersikap wajar saja, mungkin orang itu hanya numpang duduk saja, tapi aku tetap curiga karena dia tidak sendiri, yang satunya duduk dan yang satunya lagi sudah stanby di atas motor. Tapi kami bersikap biasa saja, sambil sesekali memandang orang yang duduk dia atas motor kami.

Sampailah teman kami yang masih lari tadi, dan kami memutuskan untuk pulang. Dan pada saat kami sampai ke tempat kami me-markirkan motor, teman-teman saya tidak sadar, tapi mata saya langsung mengarah ke jok motor yang sudah terbuka sedikit (tersongket), lalu saya langsung membuka seluruhnya… Dan tidak diduga, ternyata orang yang duduk di atas motor kami tadi, telah membuka jok motor dan MENGAMBIL ISINYA!!!! Di dalamnya ada 2 dompet + uang dan surat2 penting, di tambah lagi dengan 3 handphone. Malang memang tidak dapat disangka, kami pun begitu kehabisan akal dan putus asa… saya sendiri kehilangan dompet, satu teman saya kehilangan Hp, dan satu teman saya lagi kehilangan dompet + Hp. Dan satu teman saya, yang terakhir lari, tidak kehilangan apa-apa, karena motornya aman. Hanya satu motor yang di “bongkar”, motor teman saya yang satunya lagi, aman sentosa… Alhamdulillah-nya, motor kami tidak ikut di raup. Dan Hp saya pun tidak di ambil…

Kami hanya memutar sekali ke seluruh lapangan dengan motor, dan tidak bertemu dengan orang-orang yang mencurigakan, atau yang mirip dengan orang yang saya lihat mencuri barang-barang kami tadi. Dan kamipun pulang dengan perasaan takut dimarahi orang tua masing2, jujur saja… saya tidak mencemaskan uang saya yang memang tinggal Rp 52.000, tapi surat2 penting saya sangat lengkap, mulai dari SIM, KTM, ASKES, KTP, serta STNK yang pengurusannya ternyata sangat sulit dan membutuhkan uang dan waktu yang banyak. Saya juga mencemaskan ATM saya yang berisi tabungan saya…

Langkah awal setiba saya di rumah adalah melaporkan kehilangan ini kepada Orang tua. Karena di rumah saat itu sepi, jadi hanya Ayah saya yang ada, ketika saya berbicara bahwa saya kehilangan dompet, ia langsung spontan terkejut. Beliau sama dengan ku, ia juga mencemaskan STNK motor. Saya pun sudah sulit untuk berfikir jernih, dan sampai lah bunda (adik ibu). Ayah ku langsung menyuruh si bunda pergi dengan ku untuk mem-blokir ATM, saya berfikir juga untuk melakukan hal itu langsung setelah kejadian, tapi saat itu hari sudah hampir maghrib, bank tidak ada yang buka lagi. Tapi saya lupa : ada satpam nya! pasti ada arahan dari satpamnya tentang masalah saya. Dan benarlah, Satpam yang pada saat kami tiba sedang menonton bola, memberi solusi yang sangat menenangkan, ATM saya tidak mungkin di ambil uang nya, karena mereka tidak mempunyai PIN saya, dan apabila pun para maling itu nekat mencoba, dan memasukkan 3x nomor PIN yang salah, ATM nya langsung terblokir secara otomatis…
Saya tiba lagi dirumah…

Ibu saya telah pulang, dan reaksi pertama ketika melihat saya : “ojan musibah ya?”. Saya hanya mengangguk ayam, dan langsung terduduk lemas, dalam hati saya : aku siap di hajar fisik ataupun non fisik! Tapi ternyata tidak. Kami sekeluarga langsung memikirkan satu-satu cara untuk mengembalikan semua dokumen penting yang hilang, dan STNK tetap menjadi sosok yang paling sulit proses nya… setelah berbincang tidak begitu lama, akhirnya kami memutuskan besok harinya untuk memulai dari Bank untuk blokir ATM, lalu ke kantor lurah, ke polres, ke kantor ini, ke kantor itu, pusing lah… akhirnya, saya pun mandi dan beranjak sholat maghrib. Ini semua adalah Ujian-Nya, tidak ada tempat mengadu yang paling baik, selain kepada ALLAH. Setelah saya selesai sholat… saya melanjutkan dengan mengaji, dan ketika telah hampir selesai… HP saya menerima sms… dan Mukjizat itu pun hadir!!!

Saya mendapatkan sms dari 08527756**** yang berisi : “Assalamu’alaikum, pa ni benar dgn saudara M. Fauzan Nur…,” . Saya langsung berfikir ke dompet saya… saya membalas sms nya, dan menunggu respon selanjutnya, dan ternyata pada saat itu sinyal sedang buruk jadi saya susah untuk menghubungi nomor itu, dan aku memanggil bunda saya, karena ia orang nya sangat cepat… dia langsung menelpon nomor itu dari handphone nya, dan ternyata masuk! Bunda saya pun berbicara dengan orang yang berada di ujung telpon, dan ternyata benar. Orang tersebut telah menemukan dompet saya dan yang saya sangat terkejut ia menemukan nya di Darussalam! Sedangkan kami kehilangan di Lapangan Blang padang… sangat jauh. Orang tersebut pun langsung menunjuk lokasi pertemuan dan yang tidak di sangka, dia menyebutkan secara lengkap identitasnya, berarti juga dia bukanlah orang yang mencuri dompet saya. Sungguh manusia berhati emas…

Kami pun langsung menuju lokasi… yang saat itu berada di Lap. Tugu Darussalam. Namun pada saat kami sampai, kami di suruh lagi ke sebuah meunasah di ujung lapangan itu. Lalu bunda saya menelpon lagi ke nomor orang itu, dan tidak lama akhirnya kami bertemu dengan 2 lelaki, yang satunya berkacamata dan satunya masih ber-kain sarung. Perasaan saya tidak takut sama sekali, karena saya percaya mahasiswa sekolah islam ini, tidak mungkin mengambil dompet saya. Kami bercakap-cakap kecil sebelum ia mengeluarkan 2 dompet dari saku bajunya. Dan kedua dompet itu memang milik saya dan teman saya. Ternyata di dalam dompet saya, terselip nomor Hp saya, maksud saya menaruh nomor Hp di situ karena saya suka lupa dengan nomor ini, nomornya sulit (bisa dilihat di gambar bawah), dan org yg menemukan dompet saya itu menghubungi nomor saya itu. Kedua mahasiswa itu begitu baik, malah mereka berniat mengembalikan langsung ke alamat yang ada di KTP, apabila nomor Hp yang ada di dompet saya tidak berhasil dihubungi, begitu baik… sampai pada akhirnya, kami mengakhiri pertemuan dengan mengucap salam, ternyata dunia ini tidak seperti yang saya kira, masih banyak manusia yang memiliki hati dan menggunakan nya dengan semestinya. Subhanallah Alhamdulillah…

Di dalam perjalanan, saya mencoba memeriksa isi dompet saya, dan benar lah seperti yang dikatakan orang yang menemukannya, uang nya telah raib bahkan recehan pun raib, tapi itu tidak penting, yang penting surat-surat saya, dan ternyata jumlah surat-suratnya lebih banyak dari yang saya duga, tidak bisa dibayangkan berapa biaya dan waktu untuk mengembalikan semua dokumen penting itu, lebih jelasnya dapat dilihat pada foto di bawah. Surat-surat itu Alhamdulillah semuanya masih lengkap dan yang saya tidak habis fikir ternyata pencurinya tidak mengambil ATM. Jadi setelah itu, kami langsung menuju lokasi ATM di seputaran Darussalam untuk memeriksa, dan benarlah tidak sedikitpun nominal nya bergeser dari nominal semula.. saya pun menarik semua uangnya, main aman dulu lah…

Setelah itu, saya langsung menuju ke rumah teman saya… karena saya fikir ia pasti sedang dalam posisi susah sekali, walaupun saya tidak bisa mengembalikan HP-nya, tapi setidaknya dompetnya kembali dengan surat-surat penting di dalamnya. Awalnya, saya agak takut kalau-kalau orang tuanya curiga kepada saya, jadi bunda saya memutuskan ikut turun dan menjelaskan kronologis ceritanya kepada orang tua teman saya… Dan respon teman saya ketika melihat saya membawa dompetnya, sangat terkejut. Dan bunda saya langsung menyuruh teman saya untuk memanggil orang tua nya untuk di ajak bicara, karena kami dalam posisi yang sama. Respon orang tuanya juga sangat terkejut, dan setelah mengobrol… ternyata orang tua teman saya itu adalah teman dekat ibu saya! Ah, the world is like very small.. akhirnya, silahturahmi menjadi sangat menarik… karena sudah larut, kami memutuskan untuk pulang…

Setibanya di rumah, saya tidak banyak berbicara. Semua diwakilkan oleh Jubir saya.. yaitu bunda saya yang daritadi berperan aktif. Bunda saya pun mengulang ceritanya kepada ibu saya, ya walaupun ada sedikit bumbu-bumbu yang ditambah agar cerita lebih dramatis. Saya hanya diam… sungguh hari yang singkat dan luar biasa….”

Itulah cerita nya… yang pasti saya menceritakan ini semua dan mempostingkan ke dalam blog saya hanya untuk tujuan mulia yaitu membiasakan diri untuk tidak sembarangan dan tidak menganggap remeh hal-hal kecil… ini termasuk pelajaran penting yang bisa saya ambil… dan sebaiknya bisa diaminkan oleh semua pembaca.

Sedikit tips untuk kalian :
1. tolong lebih hati-hati untuk daerah parkir, karena lokasi parkir yang sembarangan semakin mengundang hasrat maling.
2. bagasi motor telah menjadi tempat yang tidak aman lagi untuk menaruh barang-barang penting, karena maling juga sudah begitu pandai. Salut!
3. usahakan memiliki foto copy seluruh surat-surat penting anda, jadi memudahkan claim apabila terjadi kehilangan
4. hargailah orang lain, karena dunia ini masih memiliki orang- orang yang menggunakan hati dengan begitu baik, sesuai fungsi awal yang dititipkan Allah kepada kita…

Berikut juga ada beberapa foto dari dompet yang di robek si maling, surat2 penting dan nomor Hp saya yang menjadi penolong dalam kejadian ini…




,
trimakasih. Fauzan.

Kamis, 02 Juni 2011

untuk anak Fekon --> "Masa Tenang = Masa Tegang"

SEBELUMNYA, saya senang sekali, Alhamdulillah blog saya ini sudah bisa di akses kembali oleh saya sendiri, setelah sekian lama saya stres karena saya lupa password... Tadinya saya mau buka2 blog si Pocong, rupanya udh ada tag email saya di bar atas nya dan langsung bisa akses ke blog saya... (ga ngerti aku ngomong apa?) Walah.. aku udah bisa nge blog lagi lah pokoknya...

oke, kita bahas sesuai judul yang aku post.
aku sedang ada di masa tenang sebelum aku menghadpi ujian akhir di semester ini (4). sebenarnya aku tidak begitu suka dengan istilah minggu tenang, ataupun masa tenang. Karena bagi aku itu adalah sebuah JEBAKAN. bayangkan bila kita diberi libur selama apapun sebelum ujian itu dilaksanakan, kita akan semakin terlena dengan waktu kosong dan membiarkan waktu itu terbuang untuk hal-hal yang percuma.
bila saja minggu tenang itu dibuat langsung menjadi hari-hari ujian, kita akan mendapatkan sedikit keuntungan, mari aku rincikan :
1. otak kita masih "hangat" dalam mengingat pelajaran, jadi kita waktu membaca soal masih ingat-ingat sedikit lah hasil review kuliah terakhir. setidaknya tidak usah belajar atau MENGHAFAL terlalu banyak.
2. status liburan kita tidak dibuat "menggantung". Kita serba salah! mau liburan, tapi pikiran selalu stress ke final yang masih lama.
3. beban di dalam otak semakin ringan karena semakin hari, semakin sedikit finalnya...

Memanglah, mungkin untuk jadwal ku sekarang, banyak tanggal-tanggal libur yang tidak bisa dibuat menjadi tanggal-tanggal untuk ujian. Manajemen yang bagus juga.. tapi dari pihak mahasiswatnya sangat menyiksa batin dan pikiran.
ah, yang penting usaha aja... karena adalah keadilan kalau orang yang berusaha, pasti mendapakan keberhasilan. insyaALLAH

selamat final... specially untuk anak2 Fekon unsyiah (tak terbatas jurusan, tak terbatas s1 atau d3, tak terbatas anak kost atau bukan, dan tak terbatas yang sudah tumbuh jenggot atau belum) Semua anak ekonomi SAMA. sama-sama tidak suka bayar parkir. (bercanda hai..)

Minggu, 08 Mei 2011

Honda-nya Lady Gaga

bisa di bilang, Lady Gaga. Dia adalah salah satu penyanyi yang paling menghibur di hatiku... tapi sepertinya ITU DULU! sekarang aku mulai sedikit demi sedikit menjauhi karya-karya terbarunya... I'm sorry Gaga. kamu semakin jauh dari prinsip utama ku menjalani kehidupan. Apalagi ada lagu di album terbarunya yang... ah! tidak aku sekali. You're not my passion again, for me...

tapi ada beberapa karyanya yang tak terlupakan olehku... mulai dari aksi panggung yang di "luar pagar" sampai kostum-kostum "mimpi buruk" yang memang tak biasa. Salah satu nya yang ini...

Sebenarnya ini penampilan yang sudah agak lama dari Gaga,(Februari 2011) pada acara Grammy Award yang saat itu Gaga membawa 3 piala... mengalahkan rivalnya tentu saja... Justine Bieber
Dan ide ini sendiri sudah begitu lama ada di kepala ku, tapi entah kenapa, aku selalu lebih suka menerbitkan ide2 spontan yang lahir ketika ada di depan layar... Thats me!

Yang menarik ide ini lahir ketika aku sedang ada di Lampu Merah Lampriet (Banda Aceh). Aku telah lama memerhatikan sebuah jenis mobil... dan aku terus memikirkan Sepertinya ada yang menarik dari mobil jenis itu, tapi apa? aku terus berpikir, sampai di lampu merah itu aku baru sadar kalau mobil itu sangat mirip dengan "kereta hantu" si Gaga... pikiran ku langsung mengarah ke Blog ku!

Mobil produksi Honda, yaitu Honda Jazz Fit RS sepertinya pantas aku sebut sebagai Hondanya Gaga... Mungkin agak kurang menarik bagi kalian... tapi bagi aku ini... juga biasa aja.
Tapi mana tahu, Lady Gaga memang terinspirasi dari Mobil ini untuk telur monsternya itu. Who knows? hohoho...

Mari kita cocokkan

Senin, 02 Mei 2011

Mimpi babu masuk Istana

masalah...

(ini adalah masalah rumah tangga, antara aku dan blog ku)
Semoga blog ku ini tidak ngambek, bukan aku ga bisa datang ke sini, tapi waktu... you know me, my blog. Minggu ini adalah minggu tersibuk bisa dikatakan, aku harus mempersiapkan diri untuk hal besar bagi kerajaan ku... Mungkin tidak pakai sembunyi2 gaun pernikahan atau ciuman kelas rendah di balkon(patah hati), tapi Loyal Mooding ku yang menggangguku selama ini my blog... mengertilah oh mengertilah, aku ini memang bukan Anggota DPR yang hebat tapi juga bukan Anang yang pandai memanfaatkan media. Tapi aku adalah aku, M. Fauzan Nur... kembaran Pangeran William.

ok, cukup membuka aib keluarga. Maaf, aku bukan artis ibutiri(ibukota) yang suka masalah pribadi di bawa ke ranah publik. Hidup artis daerah, hidup Briptu Norman!!! yey, yay, yayyy.... Normaaaaannn.. (wajah fans yang terinjak kakinya)

terima kasih aku ucapkan untuk my new followers di my blog Tak Kenal Maka Tak Sayang ini, tapi saya mohon (sambil mengais2 tanah), tolong di promo ke teman2 lain ya... hoaaa... jadi biar silahturahmi kita makin luas gitu kan, jadi satu orang follower ajak lagi satu teman lainnya, hehe... Eh, tunggu! kok sitemnya agak mirip kayak mau masuk ajaran sesat ? ga jadi kalau gitu.

banyak yang akan aku posting, semoga saja gencatan senjata antara aku dan tugas kuliah ku diperpanjang 1 minggu lagi. Amin.
Hal-hal yang mungkin akan aku share adalah masalah Lady Gaga, Artis Indonesia yang layak masuk Hollywood, Hikmah dari Alam, dan yang lainnya adalah cerita2 tidak berharga. Doakan Loyal Mooding aku tak kumat lagi.

Terakhir, aku ingin berterima kasih pada lebah yang akan membuat rumah baru di pinggir jendela kamarku. BAYANGKANNNN!!! bagaimana bisa di kamar kita sedang ada proyek kontruksi sarang tawon!! BAYANGKAN! BAYANGKAAAN!

Selamat juga kepada The New Dutch and Dutches, Prince William Philip Louis dan Katherine Ellizabeth Middleton... atas pernikahan ala2 Cinderella (semoga aja ketika jam 12, Kate ga berubah... jadi briptu Norman!)

sampai jumpa.
salam pasukan botak. Dari saya dan kembaran saya, pangeran William...

i have pict.. wohooo

Sabtu, 16 April 2011

Nilai untuk UN : (minus) 9

bukan maksud untuk memprovokasi, tapi ini adalah suara hati anak bangsa yang merasa terjajah oleh sistem kolonialisme profesionalitas dari seonggok manusia yang bernada tinggi. Aku prihatin atas nama anak bangsa yang cinta budaya.

UN sudah seperti dajjal jilid 1 untuk para anak kelas 3, baik itu SMP ataupun SMA, bermata satu dan sangat menakutkan (ini realita). Tapi apakah "orang-orang" itu mau mendengar apa kata hati kita, kawan? Aku rasa kalian semua sudah tau apa jawabannya.

sekarang giliran kita kupas UN, ini murni dari pengamatan dan pengalaman pribadi. Mari kita mulai...
1. UN hanya melakukan test pada 4 pelajaran.
jadi selama ini kita belajar banyak pelajaran ga ada gunanya? kenapa hanya 4 pelajaran itu yang diujiankan, apa pelajaran lain tidak penting? kalau tidak penting, kenapa harus di pelajari sampai bertahun-tahun? silahkan jawab sendiri.

2. Standar nilai dan sistem ujian yang selalu berubah.
sangat tidak konsisten! kenapa tiap tahun diadakan tapi selalu ada sistem yang diganti? bukankah ini seperti tidak ada tujuan yang jelas dalam pelaksanaannya dan mengapa sistemnya selalu makin menambah kesulitan siswa untuk fokus dalam belajar. Lalu mengenai standar nilai, mengapa selau naik, apa berarti kalau bertambah tahun, bertambah pula kemampuan siswa? sepertinya tidak juga.

3. Kata Lulus di dapat hanya dari hasil 4 hari
setelah bertahun-tahun berkelana di sekolah, memaki guru (dari belakang), mencuri buku pustaka karena kartu pustaka yang hilang, menambah dosa di kantin karena mencuri permen, dan mungkin keluar masuk BP karena jadwal piket. Alih-alih berdalih, ternyata hanya 4 hari yang menyatakan bahwa kita telah tamat dari pendidikan dasar. Miris...

4. Soal yang tidak adil
kata tidak adil di sini maksudnya karena bentuk soal yang sama seluruh pelosok negeri, tidak peduli sekolah itu ada atap dan ada dinding atau memiliki limosin untuk antar jemput siswanya, tingkat kesulitan soal itu tetap sama. fasilitas sekolah sama sekali tidak menjadi dasar dalam memberikan soal, walaupun soal nya sendiri tidak sama persis namun "nilai" nya tetaplah sama.

5. Bentuk soal yang "tabu"
tidak usah dipungkiri, banyak siswa yang terbiasa dengan soal yang dibuat gurunya sendiri, artinya dia hanya mengerti pelajaran tersebut bila gurunya yang menerangkan. Tapi bila soal telah berubah tangan, maka pusinglah itu kepala. termasuk aku...

6. Mental dan kesiapan siswa.
UN membuat para siswa mejadi murung dan patah semangat. Keluarga di tinggalkan, Teman dihiraukan, apatis yang menjadi sahabat. Ini membuat siswa terus terpuruk karena memikirkan sistem ujian yang super ketat dan penyesalan kenapa harus jadi anak sekolah. (lho?) #salah

7. Menghambat kreativitas siswa
tadi aku sempat mampir di salah satu website yang update masalah UN, termasuk mengangkat masalah ini. Sangat jelas, setiap pribadi manusia itu mempunyai "bidangnya" masing-masing, ada anak yang jago matematika tapi di suruh lari 2 meter.. pingsan, ada anak yang jago bola kaki, tapi 2+2=3. Jadi, bila UN terus menerus menghambat pola kreatif siswa, mereka akan terus meninggalkan kegemaran mereka dan beralih kepada sesuatu yang sifatnya memaksa. Bukankah pemaksaan itu tidak baik?

8. Semakin tingginya minat menyontek
kalau ujian nya susah dan tidak ada jalan untuk meloloskan diri, pakai cara instan saja. Langsung beribu-ribu cara untuk curang hadir di kepala, bahkan dosa ini kadang membawa orang-orang tinggi juga. Sekolah juga butuh sebuah Gengsi untuk menjaga nama baik bukan?

9. UN oke. Kuliah terjamin ga?
misalnya UN Lulus(amin), kuliah nya mau dimana? sudah terjamin oleh hasil UN yang baik itu? ini masih menjadi wacana di tingkat tinggi bahwa nilai UN bisa menjadi patokan atau tidak untuk masuk ke perguruan tinggi. Aku rasa ke depan, makin sulit menemukan orang-orang yang profesional. (yang cerdas, paham...)

Itulah hasil kupas mengupas dari UN, memang seribu cara telah terbersit di otak untuk menghalalkan segala cara agar mendapatkan predikat LULUS. Aku juga pernah di posisi itu, tapi aku lebih memilih prioritas lain, aku sadar tidak ada masa yang lebih indah dari masa SMA. Karena itu, aku lebih memilih beraktivitas yang sifatnya sosial daripada fokus untuk hal-hal yang "sok suci".

Saran aku, buat yang mau UN : belajar lah, karena belajar itu bukan hanya dari sebuah buku, tapi kalian akan menemukan pelajaran itu pada saat kalian duduk di bangku UN kalian. Selamat berjuang.