Senin, 06 Februari 2012

Keikhlasan Membentuk Kualitas

Sebelumnya, tulisan ini saya peruntukkan untuk Lomba Essay "DataPrint", daripada sia-sia tersimpan manis di laptop,saya share di blog aja... HOPE GET A USEFULL, ANYONE... :)

Ada banyak hal yang saya ingin utarakan sebagai mahasiswa yang dituntut aktif untuk bersuara bagi fungsi kontrol sosial dan kontrol bagi kebijakan eksekutif, legislatif, maupun yudikatif. Namun kami juga dituntut untuk bertanggung jawab terhadap satu hal yang bernama “cita-cita”. Yang menjadi satu nilai khusus di mata para orang tua, yang akan menjadi kebahagiaan tak terduga di mata diri sendiri maupun di mata orang tua. Ada kalanya sebagai mahasiswa, kita harus bertindak aktif menghukum keadaan sosial yang tidak berpihak pada yang kecil, namun ada kalanya juga mahasiswa harus terpaku di dalam ruangan kuliah, mendengar satu demi satu kata-kata yang berisi mimpi indah masa depan.
Kualitas pendidikan sangat perlu dihargai sebagai sesuatu yang penting di saat kita menapaki langkah menuju kelulusan tertinggi yang semua orang ingin capai. Kualitas pendidikan akan sangat berpengaruh pada perjalanan seseorang dalam berpendidikan, diantara faktor-faktor yang begitu layak untuk dibahas disini, ada satu faktor yang saya rasa lebih mengena di dalam pembentukan kualitas pendidikan, yaitu Keikhlasan. Mungkin terlihat saya sedang di luar jalur, tapi bisa saya ilustrasikan bahwa tanpa adanya keikhlasan dari petinggi di suatu organisasi pendidikan untuk memajukan dan memperbaiki kualitas pendidikan di organisasi tersebut, maka tidak akan tercipta suatu kualitas yang baik dari pendidikannya. Bila kita melihat keadaan sebaliknya, dari segi siswa atau mahasiswa juga harus menerima dengan ikhlas setiap kebijakan dan peraturan bagi tercapainya suatu kualitas. Perlu diketahui bahwa tidak ada peraturan yang membawa kepada keburukan. Peraturan dibuat karena ada hal yang menyimpang dan perlu kembali diluruskan, dan peraturanlah yang akan menghadirkan kualitas.
Faktor kualitas pendidikan menurut saya sangat banyak, disamping prasarana fisik yang harus mendukung, juga diperlukan tenaga-tenaga pengajar yang bekerja dengan “hati”. Pengajar harus tahu untuk apa ia mengajar dan apa tujuan ia mengajar. Banyak saya temukan bahwa para pengajar, baik itu dosen ataupun guru, menjadikan mahasiswa atau siswanya hanya sebagai sarana untuk mendapatkan materi, dan akhir bulan adalah hal yang menyenangkan bagi sebagian orang ini. Faktor lain, bisa dilihat dari kualitas dan kuantitas penerima materi, dalam hal ini mahasiswa atau pelajar. Banyaknya siswa di satu ruangan akan berpengaruh terhadap kualitas belajar mengajar di dalam kelas. Lalu kualitas moral siswa yang buruk juga akan mempengaruhi prilaku rata-rata siswa di dalam kelas, dan akan memberikan citra buruk bagi kualitas pendidikan. Pencitraan menjadi satu hal penting di negeri ini.
Bagi saya, definisi hanya berisi kata-kata umum yang belum tentu menyentuh substansi. Bila menurunkan definisi dari kualitas pendidikan, saya akan sedikit menarik dari pengalaman. Kualitas pendidikan yang baik adalah bentuk harmonisasi dari perjalanan karier pendidikan yang membentuk suatu prestasi sesuai kategori yang hanya dapat dinilai oleh masing-masing pribadi. Sangat menarik ketika kualitas pendidikan yang baik dimeratakan dan dibuat suatu kewajiban bagi pendidikan Indonesia yang terus kalah saing oleh hiburan-hiburan yang sifatnya semu.

M. Fauzan Nur

Rabu, 04 Januari 2012

Pasti dan Akan!

Banyak sekali pelajaran yang bisa dipetik, ya sebenarnya itulah guna kita melakukan proses pelepasan jenazah, mulai dari dikafani hingga dikuburkan... Kita semua pasti akan mati, tidak akan TIDAK. Kita patut berkaca pada kondisi dimana kita sekarang, bahwa semuanya tidak akan berarti kecuali amal dan iman yang kita bawa menghadapNya.

Air mata memang lumrah atas kepergian untuk selamanya, perpisahan begitu menyakitkan terhadap seseorang yang terbiasa berada di hadapan, sesaat saja hilang dan yang paling benar menyakitkan bahwa kita baru menaydari ia pergi dan tidak akan ada lagi. Bisakah aku berkata "jangan menangis"? susah untuk sedemikian berani. Tapi kita memang jangan menangisi untuk terlalu dalam, kita harus sadar bahwa itu semua sudah ada Yang mengatur, kita hanya menunggu hikmah...

Lebih baiknya lagi, air mata itu menjadi tidak sia-sia apabila ada perubahan setelah musibah yang kita lalui. Artinya hikmah telah muncul, dimana ada perbedaan ke arah yang baik dari sebelumnya... Musibah memang tidak diduga-duga, semua akan merasakan kematian.

Aku, kamu, dan siapa saja semoga siap akan keadaan itu... mari kita persiapkan bekal dari sekarang.
Semoga air mata saya juga ada gunanya apabila saya mendapat hal sedemikian... aku tidak menjamin akan adanya kebaikan yang ku buat sendiri nantinya, apabila aku ada di posisi itu.
Bismillah...

Turut berduka atas meninggalnya H.M. Syukur.... (cicik, ojan tidak pernah melihat kakek, tapi ojan selalu senang kalau ada di dekat cicik, selamat jalan cik...)

Sabtu, 29 Oktober 2011

Budaya Galau

Oke, pertama… selamat berjumpa lagi dunia maya. Setelah lama “berjibaku” (bukan berjilbab-ku!) dengan urusan dunia nyata yang tidak selesai-selesai, akhirnya aku melakukan hal ini lagi, dan entah kenapa… AKU MERASA BERBEDA saat mulai menulis lagi sekarang ini, perasaan saat aku mengetik satu per satu kata yang dulu ku ukir untuk merasakan feel terhadap tulisanku, sekarang sudah sulit sekali muncul. Saya terjebak di Lazy Generations.

Entah apa yang membuat inspirasi susah sekali muncul akhir-akhir ini, tapi ada sedikit hati untuk membawa ilmu ekonomi yang aku pelajari untuk dimasukkan sedikit di blog ini. Apa mungkin ini salah satu faktor penghambat inspirasi?? Ok. STOP! Kata-kata saya mulai berat… balik lagi, inspirasi untuk tulisan ini sudah 3 minggu yang lalu aku dapat dan ini muncul karena aku melihat Pak Mario Teguh sudah 2 kali mengangkat tema tentang Kegalauan. Galau… You make me now!

Inilah dunia kita, tidak berhenti melahirkan cerita-cerita romantis dengan segala kenangan manis dan seakan tidak mau mengalah, cerita pedih juga berlomba hadir yang membuat hati ini letih. LETIH, LETIH. Sekali lagi (~o~ terrriaaakkk Leeeeetiiih). Sekarang mari kita bergalau-galau ria… ada satu sisi dari diri kita yang seakan suka terhadap perasaan galau, karena itu menandakan bahwa perasaan ini masih “aktif” dan berfungsi dengan baiknya. Karena ada sebagian orang mungkin telah lupa terhadap fungsi hati nya, dan menomorsatukan pikiran dan logika dalam melaksanakan masalah yang seharusnya diselesaikan oleh hati.

Pertama, aku ingin mengartikan galau dengan tidak terlalu berpedoman pada hal-hal yang berbau pacaran atau cerita-cerita yang berbau seragam. Galau juga bisa hadir dengan perasaan seseorang yang ingin maju terus pantang mundur dalam karier nya, atau galau dapat juga dihadapkan pada situasi kita harus memilih, memulai atau meninggalkan. Galau apa bisa saya katakan sama dengan bimbang? Sepertinya mendekati. Bimbang dan galau sama-sama membawa perasaan yang menarik, karena jarang hati ini lubang dan merasa bersalah terhadap sesuatu yang berbau cinta. Mulai…

Pak Mario Teguh pernah bilang, kalau kita mempunyai perasaan galau berarti kita ingin terus maju dalam hidup kita. Dia juga menambahkan kalau galau itu biasanya di hadapkan dengan perasaan khawatir, dan orang yang selalu merasakan khawatir berarti ingin hidupnya tidak hanya diam pada satu tempat, dan ia ingin hidupnya selalu lebih baik. Ibaratnya, kita tidak pernah betah berada di zona nyaman. Kalau saya menambahkan sedikit, khawatir terhadap kehidupan saat ini adalah wajar bagi manusia, karena manusia tidak pernah merasa puas, dan itu lumrah. Kita hidup di dunia ini, hanya ujian dan hidup sekarang bukan hidup yang terakhir… kita semua akan menghadapi kehidupan selanjutnya, yang Maha hidup…

Oke… aku akan coba sedikit membedah perasaan galau dengan bertemakan cinta terhadap seseorang… tapi, sebelumnya aku mohon maaf kalau tidak begitu tepat dalam permasalahan cinta, CINTA… aku jarang merasakan itu karena. Galau yang lagi trend sekarang pastilah bertemakan seperti ini juga, perasaan disakiti dengan pedihnya tertancap dihati dan perasaan memilih mana yang terbaik dalam kehidupan ke depan. Galau akan lebih terasa lagi apabila perasaan ini di “support” oleh manusia-manusia yang tidak tahu bagaimana sakitnya perasaan galau karena cinta, mereka kadang mensorak-sorakkan kata-kata yang mengejek perasaan galau. Sebagai galau mania, pastilah kalian merasa terganggu. Tapi ada sebagian orang yang senang bila perasaan galaunya di publish dan menjadi bahan bercanda orang banyak… lihat saja di TV setiap pagi (pasangan Bukan Cinta Biasa—Janda Perjaka). Ku coba bertahan mendampingi dirimu… walau kadang kala tak seiring jalan…

-----------------------------------------------------------

Sebagian kita mungkin tidak tahu bagaimana bila orang yang kita percaya, dia yang terbaik… tapi berubah dengan begitu manis menjadi sebuah harta yang sulit untuk di ambil hatinya lagi. Aku bukanlah hati yang selalu mau menang terhadap hati kamu, tapi hati aku butuh kamu dengan apa yang kamu punya… sekarang, aku merindukan hal-hal yang membuat aku tau apa yang membuat aku senang, dan nama kamu ada selalu di daftar pembuat hati aku senang. Aku adalah yang paling tidak baik terhadap wanita, dan mungkin kamu tau itu.. dan ini juga sebagai jawaban terhadap apa yang aku dan kamu rasa saat ini. Aku tidak tau perasaan kamu saat ini, dan bahkan aku tidak pernah tau, tapi Tuhan menciptakan hati untuk merasakan, apa kamu punya perasaan yang sama? aku sebagai manusia yang tidak pernah menfikirkan hati kamu, yang tidak mau tahu ada apa di benak kamu, dan yang tidak tahu untuk apa aku dan kamu ke depan… aku menyesal sekarang. Tapi aku tidak ingin semuanya lama, aku ingin kita seperti biasa lagi… Don’t make me like this, don’t be a great wall, don’t be a princes ice… if you like this to go far of me, please refuse to that ways, I can’t have a perfect smile if you like that, and that’s a new problem for me. You believe a sillahturahmi and the use of that? If you wanna forget me, please do your ways to being that’s real and I hope you will found someone prince like you’re hope to your heart. If her is not me, praying me for that scene. Please say something…

Aku berfikir terlalu munafik dan ingin terus menjadi nomor satu bahkan selalu tidak memikirkan kesanggupan fisik dalam mencapai apa yang aku mau. Untuk diri sendiri saja, aku lupa membahagiakannya apalagi untuk membahagiakan orang lain… aku ini bukanlah malaikat yang bersih dari dosa dan selalu setia mengabdi kepada Illahi Rabbi, aku hanya manusia yang tidak bersyukur karena telah diberi orang dan waktunya yang peduli terhadap diri ini, disamping dosa-dosa lain yang aku lupa menebus itu semua dengan perilaku baik. Begitu munafik dalam kehidupan ini… untuk sekarang aku tidak tahu apa yang lebih baik aku buat, dan galau yang ini hadir di masa-masa yang kurang tepat, ujianku menunggu. Itu prioritas utamaku. Dan kamu tahu itu, aku rasa…

Terima kasih kepada sahabatku (Ljun) telah membuka cara berfikir wanita tentang hal-hal yang mungkin di anggap laki-laki sebagai hal yang tidak penting. Dan entah kenapa aku merasa berdosa sekarang, komitmen sering kita ucapkan untuk hal-hal yang berbau ambisi dan aku lupa berkomitmen dengan hati. Aku menghindar dari “hal itu” karena ingin menghindari dosa, tapi aku mungkin lebih banyak berbuat dosa dengan keadaan yang aku cipta untuk terus menghindar dari perasaan bahwa aku memang sayang dia… I’m really sorry… for you and your heart…

Tulisan ini untuk kamu…



Keep Smiling.

Rabu, 26 Oktober 2011

-.-

saya masih hidup dan segera akan menulis lagi (ada yang tanya?)

utk sekarang, ada 1 kalimat : "berilah kebaikan kepada orang lain, karena kebaikan adalah hadiah terbaik"...
Tx to Mario Teguh

i'll be back.

Jumat, 26 Agustus 2011

Dari saya untuk Pak Nazaruddin

Baiklah! Karena aku menulis ini pada saat aku sedang berpuasa, sudah pasti aku tidak bisa bohong. JUJUR saya sudah bosan dan cenderung muak dengan segala yang berbau sdr. Nazaruddin. Kenapa? Tanya hati anda sendiri…

Memang benar kata seorang ustadz yang waktu itu lagi ceramah untuk menjelang berbuka puasa di ercete-i, Indonesia ini banyak dilanda krisis, selain sudah pasti keadaan masyarakat yang belum lepas dari kemiskinan dan tingkat kesejahteraan yang buruk, Indonesia juga sedang mengalami krisis kejujuran. Saya rasa itu benar, masyarakat disuguhkan oleh bermacam-macam pola pikir media yang seakan juga penegak hukum di negara ini. Kita harus ingat! Suara media adalah suara rakyat, tapi suara rakyat BUKAN suara Tuhan.

Mari masyarakat Indonesia yang cerdas… kita harus menetapkan satu pola pikir mandiri dengan menetapkan pandangan tersendiri dalam melihat sebuah masalah, begitu juga memasukkan keyakinan kita terhadap Tuhan di atas segalanya yang berbau hukum duniawi, jadi segala permasalahan kita nomor satukan untuk merujuk ke Al-Qur’an dan Al-Hadist, dengan demikian insyaALLAH masalah itu dapat menemui jalan keluarnya. Indonesia yang mayoritas muslimnya tertinggi di dunia, seharusnya mampu ataupun sedikit menerapkan hukum Al-Quran dan Al-Hadist untuk menyelesaikan masalah-masalah di Indonesia, ya walaupun saya yakin, ini akan bentrok dengan hukum Pancasila. (mohon maap lah…)

Di bulan yang penuh rahmat seperti Ramadhan ini, Indonesia juga tidak luput oleh Rahmat Allah SWT. termasuk Allah Memulangkan Nazaruddin kembali ke tanah air Indonesia. Seharusnya dengan kepulangan yang penuh drama kemarin itu, Indonesia memiliki sedikit “cela” untuk mengetahui siapa sebenarnya yang berdusta di dalam negeri ini. Tapi sayang bukan kepalang, ternyata banyak oknum yang membuat air kembali keruh, termasuk si Nazaruddin itu sendiri.

Saya sangat “panas” ketika beberapa hari ini, media memberitakan mengenai Nazaruddin yang minta dipindahkan dari Rutan Mako Brimob. WHAAAAT??!!! Who’re you??? Okelah, misalnya dia anggota DPR, tapi kembali ke situasi sekarang, dia itu sudah di tetapkan Tersangka oleh KPK, dan itu sudah sangat membuktikan bahwa dia memang bersalah di beberapa kasus. Dan kemarin juga di jumpa pers setelah kepulangan Nazar, KPK juga membuka satu hal bahwa total kerugian negara atas kasus yang dituduhkan kepada Nazar adalah sekitar 6 Triliun. Bayangkan!!! ENAM TRILIUN… (beli pulau, cukup ga tu?)

Alasan pak Nazar untuk di pindahkan, adalah karena dia merasa tertekan dan di intimidasi di dalam situ, dan yang paling anehnya dia pake acara “ngambek” waktu diperiksa KPK, katanya (melalui kuasa hukumnya) Nazar tidak akan “bernyanyi” sebelum dia dipindahkan… persis kayak anak-anak yang ga mau puasa kalau ga dikasih duit. Mengenai intimidasi dan merasa tertekan, memanglah narapidana dan orang yang sudah merugikan negara harus dibuat tertekan, kalau mau nyaman pindahkan saja sel Nazaruddin ke studio Dahsyat, lumayan kan buat bahan lucu-lucuan Olga.

Sedih melihat bangsa Indonesia sekarang, semakin sulit melihat kebenaran. Aku juga merasa aneh dengan televisi yang dimiliki oleh politisi, sudah tidak “lurus” lagi rasanya… walaupun aku yakin TV-TV itu juga memiliki sikap yang kritis dalam permasalahan bangsa, dan tidak sedikit karena pengaruh mereka, banyak menyelamatkan negara. Tentunya dengan bantuan media, semua menjadi semakin terang benderang, jadi tak heran kalau Nazaruddin menggunakan media untuk menyerang balik “X-kawan” nya. Dengan nyanyian Nazar juga, kita sedikit tersadarkan bahwa siapa yang sedang memakai topeng. Sungguh buruk wajah Indonesia bila dilihat dari segi penegakan hukum. Semoga sepakbola dan budaya bisa kembali menegakkan Indonesia di posisi awalnya sebagai negara yang “sesuatu” di dunia ini…

Jujur, saya menulis ini juga ada sedikit perasaan takut bahwa rezim Soeharto akan kembali muncul, bahwa siapa yang mengkritik penguasa siap-siap berpisah dari keluarga… tapi saya yakin, bila pun orang-orang yang mengkritik itu mengalami hal semacam itu, ia akan dikenang sebagai sosok yang terhormat karena telah berkata jujur sesuai dengan isi hatinya.


Untuk pak Nazaruddin…
“pak, saya memang masih anak kemarin sore yang belum lagi melihat dunia ini walaupun setitik saja. Tapi saya dan teman-teman seusia saya adalah penerus bangsa ini, dan saya juga berharap pak, bahwa generasi saya berbeda dari generasi bapak, bahwa generasi saya adalah generasi yang jujur, yang memimpin bangsa ini dengan satu alasan… bahwa pengabdian yang dilakukan hanya untuk rakyat. Karena apapun yang akan kita lakukan akan kita pertanggungjawabkan di tempat yang kita semua belum tahu kapan dan seperti apa keadaan kita dalam menghadapi kondisi itu. Jadi tolong tegakkan kejujuran di hati bapak, sadarlah apabila bapak berkata yang sejujur-jujurnya, bapak akan dikenang sebagai sosok terhormat dan keluarga bapak, yang sangat bapak cemaskan itu, akan semakin bangga atas bapak. Bila ada yang bertemu anak bapak di mall, pasti orang akan berkata ‘eh, eh, lihat itu kan anak si nazaruddin yang hebat itu’. Selamat idul fitri pak nazar…
Salam damai dari saya yang cemburu atas ketenaran bapak…
Muhammad Fauzan Nur… (@faujan_nur)”

Sabtu, 23 Juli 2011

Ketika Cinta Beasiswa

Jumat,22 Juli 2011

Oke, pertama kali kata terima kasih aku paketkan dengan sepucuk bunga mawar kepada pemberi ide untuk tulisan ini, dia adalah kawan kampus aku, Dila. Add aja Facebooknya… Fara Dilla, karena anaknya lumayan manis lah (senang kali ke dipuji2 dil?! BAYAR!!!)

Pagi tadi, kami serombongan sedang mengurus tahap-tahap terakhir untuk pengurusan beasiswa PEMDA. Menurut ku ini adalah beasiswa ter-repot yang pernah aku ikuti, kenapa?? Informasi untuk beasiswa ini saja dikeluarkan di Koran dan syaratnya pun lumayan banyak, walaupun tidak susah dalam mengurus syarat-syarat yang diminta, tapi TETAP uang sana sini juga… (Pak SBY!!!! Helep!). Dan ditambah lagi, karena ini semua tidak ada informasi yang pasti selain dari Koran, jadi banyak sekali kabar-kabar angin yang menjurus ke kata “benar juga ya…”. Syarat pun akhirnya bertambah!

Tapi, Alhamdulillah… hari ini semuanya sudah selesai, walaupun kami kumpul di saat-saat mau tutup (jam 12 siang), tapi yang penting berkas kami, specially punya Aku udah masuk dengan nomor 1795. BAYANGKAAN! Hampir 1800 orang yang sudah mendaftar… dan pendaftaran masih dibuka terus sampai sebulan lebih ke depan… dan terdengar kabar panitia menargetkan 5000 berkas akan masuk untuk beasiswa kali ini. Yang aku pikirkan hanya satu, BAGAIMANA ITU TANGAN PARA PANITIA MENYORTIR SATU PER SATU BERKAS??? GEMPOR-GEMPOR LAH TU TANGAN. De eL

Ada hal yang menarik dari setiap pengurusan beasiswa seperti ini, baik itu beasiswa yang terikat hanya sebatas internal universitas masing-masing ataupun cakupannya lebih luas seperti yang terjadi pada beasiswa Pemda kali ini. Kenapa begitu banyak orang yang mau capek-capek mengurus beasiswa seperti ini, apa mereka kurang uang makan atau mereka butuh tambahan dana untuk mas kawin? Ya, untuk alasan kedua, aku rasa aku juga akan mengajukan proposal kepada pemerintah untuk hal itu (mahalnya anak gadis orang… -.-). Tapi aku juga lihat, tidak semua yang mengurus beasiswa atau bantuan dana apapun adalah anak kurang mampu, sebenarnya sah-sah saja, asalkan syaratnya tidak mencatumkan “kamu harus anak kurang mampu” aku rasa hati harus bermain kali itu, yang bukan hak kita… lebih baik mundur (Brimob bangeuuudhh).

Jujur saja, aku mulai jengah dengan pertanyaan kawan-kawanku tentang kenapa aku selalu hyperactive dengan yang namanya Beasiswa. Mungkin dipikiran mereka aku rakus sekali dengan uang dan sedang berusaha untuk mengumpulkan dana untuk naik haji… padahal tidak begitu juga! Ini ya, ku katakan/tuliskan bahwa aku selalu mengurus beasiswa karena aku butuh AMUNISI untuk masa depan ku, itulah alasan ku yang sangat utama!!! Amunisi? Ya, amunisi. Aku merasa tidak pantas terus-terusan mengadah tangan kepada orang tua walaupun orang tuaku se-kaya apapun, rasanya tidak ada gunanya sama sekali kita sebagai anaknya yang hanya mengadah tangan kepada mereka. Aku tidak punya pekerjaan dan sekolahku masih akan terus membutuhkan dana. Di tambah lagi, umur orang tua yang sudah beranjak setengah abad yang membuat mereka akan cepat merasa letih di aktivitasnya… its touching!

Mungkin sebagian kalian tidak sependapat denganku, tapi itu bukan urusan ku… ini kan blog aku! (SUMPAH, INI TIDAK PENTING). Mungkin ini juga alasan anak-anak dibawah ini yang rela berdesak-desakan demi amunisi yang mereka perlukan ataupun alasan-alasan lain yang menurut mereka sangat urgent untuk di-indahkan… I’m with you, friend…

(nampak ga begitu rame, karena sebagian udah di "usir" keluar sama petugasnya)

Uang adalah hal yang tidak begitu pasti kegunaannya bila kita telah banyak memilikinya, tapi coba kita bandingkan dengan orang yang jarang memegang uang, mereka selalu mengeluarkan uang untuk hal-hal yang pasti dan jelas untuk tujuan apa uang itu dikeluarkan (sok tahu). Orang tua mungkin telah banyak mempersiapkan dana untuk sekolah kita, dan itu menjadi bonus bagi kita, untung-untung lagi uangnya bisa digunakan untuk sedekah kepada yang berhak… oohh, nikmatnya hidup bila begitu… ^_^

Aku tidak ingin munafik, dan kalian yang calon-calon penerima beasiswa juga jangan munafik, kalau uang itu sudah ada di tangan kita bisa membuat rencana awal berbalik arah. Pasti ada saja barang yang mau di beli… dasar manusia. Apapun itu, yang paling penting adalah meningkatkan prestasi belajar, karena segudang beasiswa tidak ada gunanya bila prestasi tidak naik juga… aku rasa, setiap orang tua pasti akan lebih senang kalau anaknya ber-prestasi dalam hal apapun yang ia lakukan, baik itu akademik maupun organisasi… ataupun yang sudah bekerja, yang akan memberikan input besar bagi orang tua berupa rasa bangga yang tak terkira melihat jerih payahnya selama ini berbuah manis, kita pun sebagai anaknya merasa berguna sebagai titipan ALLAH kepada orang tua kita.

Yang pasti aku tak ingin terlalu dalam memikirkan beasiswa itu tembus atau tidak. Fokus saja dalam menjalani sisa waktu di dunia dan berfikir positif dalam setiap usaha yang kita lakukan, juga menerima dengan lapangnya hati bila beasiswa itu ternyata tidak kita dapatkan. Kita ini tidak terlalu membutuhkan uang untuk kehidupan yang abadi tapi kita membutuhkan uang untuk sarana dalam menjalankan hidup yang sementara, so… kalau dapat beasiswa nanti, sisihkan sedikitnya 2,5% untuk yang berhak… sebagai rasa syukur lah atas rezeki yang Diberi-Nya. Dan terakhir, selamat beribadah di bulan Ramadan (untuk semuanya mohon maaf ya atas salah aku sama kalian selama ini, loph yu ol!)



Oya, ngomong2 kok beasiswa kita ga tembus, sakit juga ya… (Tetap.. -,-)

Minggu, 03 Juli 2011

Ayah, seorang Megapower

…ZONA PUISI….

Rasa sayang yang lain yang di beri
Senyuman selalu menjadi obat mujarab
Walaupun suatu kadang harus berperang
Melawan kumis tebal untuk melihat senyum terbaik itu

Berperasaaanku untuk selalu di dekatnya
Aku terpisah oleh rasa benci bila dia ku gapai
Dia mungkin saja beku oleh hati
Hati yang membuatnya selalu benci akan diri sendiri

Disini aku hanya mewakili
Sejuta umat negri yang sangat mencintai
Suatu sosok simbolik yang berjuang meraih mimpi
Kadang hatinya merintih tapi tak bisa diberi

Aku begitu mencintai yang satu ini
Cinta ini mungkin terlalu tabu…
Tapi, kadang aku harus takut
Cinta Tuhan harus Memanggilnya pergi

Aku takut… takut diri ini goyah
Ketika melihat senyuman itu sudah tak bernyawa lagi
Iman ku harus menjawab
Bahwa dia bukan milikku…

Ayah… ku sebut namamu di sini
Aku ingin tangisanku lebur oleh karang
Entah apa yang terjadi dalam tulisan ini
Aku tak bisa melihat pasti kalau ini sebuah tanda terima kasih…

Ayah…
Setiap marahmu adalah kebaikan
Setiap senyummu adalah ketenangan
Walau sulit untuk menggapaimu, tapi aku ingin kau tahu
Apapun dirimu, engkau tetap Ayahku….

Anakmu,
Muhammad Fauzan Nur.

(oya, ini bukan gambar aku dan ayahku, hanya kiasan ayah dan anak yang bahagia)